Tagged: AL QUR-AN RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • revislam 10:13 pada 3 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: AL QUR-AN   

    AL QUR-AN Hlm. 4 

    3. Al Qur-an bukan untuk dijadikan referensi sains/pengetahuan.
    4. Al Qur-an bukan untuk dijadikan jampi2, mantra2 dll.
    5. Al Qur-an bukan untuk mencari “pahala” dan bukan untuk diakhirat.

    Adapun orang2 yg tidak mau memahami fungsi dan eksistensi al Qur-an dan juga maknanya, itulah yg disebut “ummiyyuun”.

    “Mereka itu sebenarnya “ummiyyuun”, ya’ni tidak mampu memahami al-Kitab secara ilmiyah, melainkan hanya lamunan dan tidak lebih hanya men-duga2 belaka. Maka celakalah orang yang menulis konsefsi yg kemudian mereka menyatakan : Inilah yang dari Allah. Demi meraih keuntungan/ kesenangan yang sedikit (temporer). Maka konsef yang mereka rancang dan usaha yg mereka kerjakan hanya akan mewujudkan kehidupan “wayl” (QS.al-Baqarah/2:78-79).

    “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alqur’an untuk PELAJARAN, maka adakah orang yang MENGAMBIL PELAJARAN ?” (QS. 54: 17,22,32,40.)

    *****

    nb:

    • Catatan ini kami dedikasikan untuk sahabat FB kami, bp. Ary Saptono.

    Terimakasih atas segala atensi & supportnya… ^_^.

    ¤¤¤

     
  • revislam 10:13 pada 3 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: AL QUR-AN   

    AL QUR-AN Hlm. 3 

    Adapun bentuk2 hukum yg dijelaskan al Qur-an & Sunnah adalah halal dan haram yg bermakna benar dan salah, baik dan buruk atau haq dan bathil. Dengan demikian al Qur-an tidak mengenal hukum selain halal & haram.

    “Hai orang2 yang telah menyatakan sikaf iman, janganlah kalian mengharamkan yang “thayyibat”, yakni apa2 yang halal menurut (ajaran ilmu) Allah” (QS.al Ma-idah/5:87)

    “Sesungguhnya yang halal telah nyata /tegas dan yang haram telah nyata /tegas, dan diantara keduanya saling mengungkapkan” (HR.Bukhari & Muslim)

    C. KESIMPULAN.

    Al Qur-an berupa Wahyu yang Allah “tanzilkan” melalui Rasulullah saw. yang khusus dipilih untuk menjelaskan Ajaran IlmuNya yang berfungsi sebagai landasan pembentukan kehidupan sosial-budaya manusia (khuluqiyyah) di dunia. Merupakan satu kepastian Ilmu Allah, bahwa penyusunan kehidupan sosial-budaya tidak bisa melalui konsepsi olahan pikiran manusia, baik melalui refleksi alam dan ataupun difeksi jiwanya (materialisme-idealisme).

    “Bahwa tidak mungkin bangunan kehidupan sosial-budaya yang mendamaikan itu bisa terwujud dari pengerahan dana (dunia materi) yang dihasilkan penggarapan terhadap bumi (alam) ini, tetapi hanya dengan Ajaran Ilmu Allah inilah kehidupan sosial-budaya yang tentram itu bisa tercapai” (QS. al-Anfal/8:63)

    Dengan memahami fungsi & eksistensi al Qur-an, maka al Qur-an bermakna sbg: wahyu, bayan, hudan dan hukum.
    Didalam keterangan ayat2 yg lain, al Qur-an juga bermakna:

    • Furqan => qs. 2:185
    • Dzikru => qs. 16:44
    • Nuur => qs. 5:15
    • Fithrah => qs. 30:30
    • Sabiil => qs. 2:190
    • Syari’at => qs. 45:18
    • Dien => qs. 3:19
    • Dan masih banyak lagi……

    Dengan memahami fungsi & eksistensi al Qur-an, maka al Qur-an…..

    1. Ditanzilkannya al Qur-an kedunia ini adalah untuk bimbingan hidup dan kehidupan “seluruh umat manusia” tanpa mengenal “ethnologi” dan batasan “geografi”.
    2. Al Qur-an, meskipun memiliki kualitas sastra yang sangat tinggi, namun bukan untuk dijadikan sya’ir2 yang melenakan dan komersial.

    ^ ^ ^

     
  • revislam 10:12 pada 3 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: AL QUR-AN   

    AL QUR-AN Hlm. 2 

    Hal ini terjadi dikarenakan subjektif manusia (falsafah) yg dijadikan sudut pandang dalam memahami/ menafsirkan Qur’an, dimana falsafah2 Yunani banyak membaur dalam menafsirkan al-Qur’an. Dalam hal ini falsafah Yunani dari Idealismenya Plato/Platonisme yang di-Arabkan dibalut dengan hadits2 palsu dan ayat2 Qur’an (bahasa Arab) yang diselewengkan maknanya yg menjadikan umat Islam pecah-belah dan ber-musuh2an. Sungguh ironis!….

    Kenyataan yang kita hadapi sekarang ini merupakan warisan dari pendahulu2 kita dan sudah waktunya bagi kita yg hidup digenerasi ini untuk merubah kondisi tsb. dan tentunya tidak semudah kita membalikkan telapak tangan. Silahkan pelajari QS. 3:142, QS. 2:214 & QS. 2:155 !

    Sebagai langkah awal kita untuk memahami makna kandungan al Qur-an berdasarkan sudut pandang al Qur-an itu sendiri, sudah tentu kita harus mengetahui fungsi & eksistensi al Qur-an.

    A. FUNGSI AL QUR-AN.

    Fungsi dalam arti kedudukan dan tugas.
    a. Kedudukan al Qur-an adalah “Wahyu”:

    “Telah diwahyukan kepadaku al Qur-an untuk dijadikan “tandzir” terhadap kalian dan terhadap orang2 yg telah sampai kepadanya berita wahyu” (QS.al An’am/6:19)

    Wahyu adalah bahasa kesadaran, bahasa khusus yang diciptakan oleh Allah untuk menyampalkan Ajaran IlmuNya kepada seluruh RasulNya. Wahyu adalah sumber Syari’at Islam. (Sebagai catatan, bahasa Wahyu tidak sama dengan bahasa Arab).

    b.Tugas al Qur-an adalah “Bayan”:

    “Dan telah Kami tanzilkan kepadamu al Kitab (Qur-an), untuk menjelaskan fakta kehidupan (bayan) benar-salah” (QS.an Nahi/16:89)

    B. EKSISTENSI AL QUR-AN.

    a. Sebagai petunjuk/bimbingan sosial-budya manusia (Hudan):

    “Pada bulan Ramadhan ditanzilkan al Qur-an sebagai bimbingan sosial-budaya manusia” (QS.al Baqarah/2:185)

    b. Sebagai hukum yg harus berlaku bagi seluruh umat manusia:

    “Sesungguhnya telah Kami tanzilkan kepadamu kitab yang objektif (Qur-an), untuk dijadikan hukum di-tengah2 kehidupan manusia” (QS.an Nisa/4:105)

     
  • revislam 10:11 pada 3 April 2011 Permalink | Balas
    Tags: AL QUR-AN   

    AL QUR-AN Hlm. 1 

    Dengan menyebut al Qur-an, maka seluruh umat Islam dari berbagai lapisan pasti sepakat bahwa al Qur-an itu adalah sebagai “Kitaballah” atau “Kalamullah”. Al Qur-an yg diajarkan oleh Allah swt. kepada RasulNya yg terakhir bernama Muhammad bin Abdullah, bertugas sebagai “Mushaddiq” yaitu meluruskan kembali cara berpikir manusia2 dari pola pikir jahiliyah kepada pola pikir yg ilmiyah (Pola pikir berdasarkan Qur-an & Sunnah), dan selanjutnya dalam rangka mengujudkan kehidupan beradab dari kehidupan biadab.

    Sebagaimana yg pernah kami uraikan dalam tulisan kami terdahulu bahwa sudah menjadi tradisi sejak dahulu kala dari Nabi2 sebelumnya, apabila seorang Nabi/Rasul meninggal maka umat2nya akan berantakan akibat dari adanya penyelewengan dari ajaran yang murni yg dilakukan oleh orang2 tertentu yang ingin memperoleh keuntungan duniawi. Demikian juga halnya dg al Qur-an, setelah Rasulullah saw. wafat yg kemudian digantikan oleh empat orang khalifah secara bergantian, dimulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, maka selama 30 tahun berangsur-angsur kondisi jahiliyah muncul kembali. Hal ini terjadi setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan memperoleh kemenangan dlm percaturan politik melawan Ali bin Abi Thalib dg cara yg curang dan licik.
    Semenjak itulah umat Islam berpecah-belah kembali ditandai dg munculnya berbagai macam golongan dan faham dan berlanjut sampai kepada masa kita sekarang ini.

    Berdasarkan situasi dan kondisi tsb, kita menyadari bahwa kita berada di-tengah2 kondisi jahiliyah kembali. Oleh karenanya kita sbg umat Islam yg sadar akan hal ini, maka sudah seharusnya kita berkewajiban untuk mengoreksi kembali, sejauh mana kita memahami makna al Qur-an. Al Qur-an yg ada sekarang ini memang secara material/verbal masih utuh dan murni, dan ini sudah menjadi jaminan Allah swt.
    Masalah besar yang dihadapi umat Islam sekarang ini adalah pemahaman/penafsiran terhadap al-Qur’an baik disadari ataupun tanpa disadari sudah jauh menyeleweng dari makna/hakekat/ subtansi yang sebenarnya.

    ^ ^ ^

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.