~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 2
b. “Al Asy’ary” memilih dan menetapkan sifat-sifat Tuhan itu ; yang wajib 20, yang mustahil 20 dan yang Jaiz ada satu.
5. Istilah sifat menurut para ahli Ilmu Tauhid ialah sesuatu hal atau keadaan yang ada pada dzat, tetapi bisa dipindahkan dari dzat itu sendiri. Maka cara berpikir menurut pola Ilmu Tauhid itu berarti Tuhan Allah terdiri dari dua unsur, yaitu dzat dan sifat, sehingga semakin didalami dalam rangka meng-Esa-kan Tuhan, pasti akan kabur dan tidak akan sampai kepada tujuannya.
6. Studi tentang alam ini dengan jalan penelitian untuk mencapai ma’rifat, pengetahuan tentang benda-benda ciptaan Allah, ujud, bentuk, fungsi dari masing-masing benda, memang itulah yang harus dijadikan objek studi manusia sebagai salah satu jembatan kearah mau hidup menurut ajaran Ilmu Allah sebagaimana kondisi semesta alam yang sudah sepenuhnya sujud, tunduk dan patuh kepada Allah penciptanya. Akan tetapi Allah tidak boleh dijadikan objek studi dan yang pasti tidak memungkinkan, baik untuk mengetahui dzatNya maupun batas-batas daripada sifatNya. Disamping itu, Ia yang bersifat gaib ini adalah sesuatu yang tidak dapat diriset atau diexperimenkan. Dalam hal ini Rasulullah saw. menegaskan :
“Tafakuri/kajilah ciptaan Allah dan jangan sekali-kali kalian mentafakuri/ mengkaji Allah, sebab pasti akan menimbulkan kerusakan”. (HR. Abu Syekh)
Begitu pula didalam al Qur-an, tidak ada satu ayatpun yang memberikan perintah kepada manusia untuk memikirkan dan mengkaji Allah. Al Qur-an dari Allah tetapi bukan untuk dijadikan sebagai alat untuk mengkaji Allah. Al Qur-an sebagai ajaran Ilmu Allah menerangkan seluk beluk semesta alam ini.
QS. Yunus/10:101 menegaskan :
“Nyatakanlah : Pusatkan perhatianmu itu kepada segala sesuatu yang ada disemesta angkasa dan bumi ini. Tidak ada gunanya mengkaji kekuasaan (sifat) Allah, dan semua itu hendaknya dijadikan peringatan bagi kaum yang tidak beriman”.
Silahkan hubungkan dengan QS. Ali Imran/3:191.
Jadi bukan mentafakuri Allah, apalagi dengan menggunakan satu methode berpikir…..