Recent Updates Halaman 2 RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • revislam 12:50 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 2 


    b. “Al Asy’ary” memilih dan menetapkan sifat-sifat Tuhan itu ; yang wajib 20, yang mustahil 20 dan yang Jaiz ada satu.

    5. Istilah sifat menurut para ahli Ilmu Tauhid ialah sesuatu hal atau keadaan yang ada pada dzat, tetapi bisa dipindahkan dari dzat itu sendiri. Maka cara berpikir menurut pola Ilmu Tauhid itu berarti Tuhan Allah terdiri dari dua unsur, yaitu dzat dan sifat, sehingga semakin didalami dalam rangka meng-Esa-kan Tuhan, pasti akan kabur dan tidak akan sampai kepada tujuannya.

    6. Studi tentang alam ini dengan jalan penelitian untuk mencapai ma’rifat, pengetahuan tentang benda-benda ciptaan Allah, ujud, bentuk, fungsi dari masing-masing benda, memang itulah yang harus dijadikan objek studi manusia sebagai salah satu jembatan kearah mau hidup menurut ajaran Ilmu Allah sebagaimana kondisi semesta alam yang sudah sepenuhnya sujud, tunduk dan patuh kepada Allah penciptanya. Akan tetapi Allah tidak boleh dijadikan objek studi dan yang pasti tidak memungkinkan, baik untuk mengetahui dzatNya maupun batas-batas daripada sifatNya. Disamping itu, Ia yang bersifat gaib ini adalah sesuatu yang tidak dapat diriset atau diexperimenkan. Dalam hal ini Rasulullah saw. menegaskan :

    “Tafakuri/kajilah ciptaan Allah dan jangan sekali-kali kalian mentafakuri/ mengkaji Allah, sebab pasti akan menimbulkan kerusakan”. (HR. Abu Syekh)

    Begitu pula didalam al Qur-an, tidak ada satu ayatpun yang memberikan perintah kepada manusia untuk memikirkan dan mengkaji Allah. Al Qur-an dari Allah tetapi bukan untuk dijadikan sebagai alat untuk mengkaji Allah. Al Qur-an sebagai ajaran Ilmu Allah menerangkan seluk beluk semesta alam ini.
    QS. Yunus/10:101 menegaskan :

    “Nyatakanlah : Pusatkan perhatianmu itu kepada segala sesuatu yang ada disemesta angkasa dan bumi ini. Tidak ada gunanya mengkaji kekuasaan (sifat) Allah, dan semua itu hendaknya dijadikan peringatan bagi kaum yang tidak beriman”.

    Silahkan hubungkan dengan QS. Ali Imran/3:191.
    Jadi bukan mentafakuri Allah, apalagi dengan menggunakan satu methode berpikir…..

     
  • revislam 12:49 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 1 


    I. ILMU TAUHID

    1. Ilmu Tauhid adalah satu cabang keilmuan yang mempelajari sifat ke-Tuhan-an Allah, untuk mengesakan Tuhan atau mempercayai Tuhan Yang Satu.

    2. Methodenya ialah mengamat-amati atau meneliti benda-benda ciptaan Allah, ujud, gejala-gejala dan sifat-sifatnya, dalam pengamatan mana ialah dengan menggunakan hukum akal, kemudian hasilnya digunakan untuk menyoroti dan mempelajari sifat Tuhan Allah.
    Yang dikatakan hukum akal itu terbagi kedalam tiga bagian :

    a. Wajib = mesti adanya.
    b. Mustahil = mesti tiada.
    c. Jaiz = boleh ada boleh tidak.

    3. Tujuan daripada Ilmu Tauhid ialah untuk mencapai “ma’rifatullah” artinya mengetahui/mengenal Tuhan Allah.
    Ma’rifatullah ini saja adalah untuk dijadikan isi daripada “Iman” yang umumnya mereka artikan “percaya”. Ilmu ini sesuai tujuannya dipandang begitu penting, bahkan dikatakan “ushuluddin” yakni pangkal/inti agama.

    4. Objek pembahasan utama dari Ilmu Tauhid ini adalah “shifatiyah” (sifat Tuhan Allah), yaitu melakukan kegiatan akal pikiran untuk memilih dan menetapkan sifat-sifat “Kamilah”, sifat yang wajib, mesti adanya pada dzat Allah yang biasa disebut dengan “itsbaatu maa yul yifu bihii ta’aala”, dan memilih serta menetapkan sifat “naqishah”, sifat yang mustahil, mesti tiada pada dzat Allah atau biasa disebut dengan “itsbaatu maalaa yul yifu bihi ta’aala, serta memilih dan menetapkan sifat “jaiz”, sifat yang mungkin, boleh ada dan boleh tidak ada pada dzat Allah, yaitu yang biasa disebut dengan “wa itsbaatu maa yumkinu bihii ta’aala”.

    Sesuai dengan kuasa akal diatas pola pikiran Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam), maka dipilih dan ditetapkan sifat-sifat Tuhan Allah dan akhirnya dengan kuasa akalnya itu sampailah mereka kepada perbedaan pendapat mengenai jumlah sifat-sifat Tuhan itu.
    Ulama-ulama Ilmu Kalam berselisih didalam menetapkan jumlah sifat-sifat tersebut, seperti :

    a. “Al Ma’turidy” memilih dan menetapkan bahwa sifat Tuhan Allah ; yang wajib ada 13, yang mustahil 13 dan yang Jaiz satu. Sebaliknya …..

    ^ ^ ^
    .

     
  • revislam 14:15 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 43 


    ?

    ….. umat manusia”. (QS. an Nahl/16:44)

    ????????????

    “Dengan kedudukan Khalifah, maka manusia bertujuan hidup untuk mewujudkan kehidupan “Ruhama” yakni kehidupan yang berprikemanusiaan.

    “Dan sesungguhnya kamu diharuskan membangun akhak yang agung”. (QS. al Qalam/68:4)

    DENGAN demikian kalimat Bismillaahir rahmaanir rahiim adalah :

    “SISTIMATIKA DIENUL ISLAM”

    rumusnya :

    • Bismillaah = IMAN.
    • Arrahmaan = ISLAM.
    • Arrahiim = IHSAN.

    Bila dihubungkan dengan bahasan motif, peristiwa dan nilai maka :

    • Bismillaah = motif = sikap.
    • Arrahmaan = peristiwa = aktivitas.
    • Arrahiim = nilai = tujuan.

    Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

    “Setiap aktivitas apapun yang disengaja, tidak dimulai dengan Bismillaahir rahmaanir rahiim, berarti telah melakukan kesalahan (terputus)”. (HR. Abu Dawud)

    ~?~

    ????????? ????? ??????? ????????

    ???? ????? ?????? ?????? ???? ????? ????? ??? ?????? ?????? ???????? ???? ????? ???? ????? ????? ??? ?? ?????????? ?????????

    ” MAKA, TEGAKKANLAH PANDANGAN HIDUPMU UNTUK MEREALISASIKAN TATA CARA YANG MURNI, YAKNI FITRAH ALLAH YANG TELAH DINORMAKAN DALAM MENATA HIDUP-KEHIDUPAN MANUSIA, TIDAK AKAN MENGALAMI PERUBAHAN SEBAGAIMANA KEHIDUPAN FISIKA CIPTAAN ALLAH, ITULAH TATA CARA YANG LURUS, TETAPI MAYORITAS MANUSIA TIDAK MENGKAJINYA SECARA ILMIYAH “
    (QS. AR RUUM/30:30)

    ?? ????? ????????? ???
    ???????

    ” SESUNGGUHNYA TATA CARA HIDUP-KEHIDUPAN YANG DIAJARKAN ALLAH HANYALAH ISLAM = (DAMAI-MENDAMAIKAN, SELAMAT-MENYELAMATKAN, SEJAHTERA-MENSEJAHTERAKAN) “.
    (QS. ALI IMRAN/3:19)

    ~?~

    ?????????? ?? ??????????

    Demikianlah akhir dari uraian ~HAKEKAT MANUSIA~

    ??? ~SELESAI~ ???

     
  • revislam 14:14 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 42 


    ?

    ….. menggunting dalam lipatan dan lempar batu sembunyi tangan dan ataupun bahkan yang terang-terangan.
    Segala permasalahan tersebut bisa dihindari hanya dengan senantiasa melindungi diri dengan Ajaran Ilmu Allah yakni al Qur-an sebagai teori dan Sunnahrasul tehnis praktisnya.

    Dalam hal ini Allah berfirman didalam QS. an Naas/114:1-6, berbunyi :

    ?? ?????????? ???????

    “Nyatakan olehmu : Aku melindungi diri dengan (Ajaran Ilmu Allah) pembimbing kehidupan manusia (masyarakat)”.

    ?????? ????????

    “yang mengatur, mengawasi dan menguasai seluruh gerak kehidupan manusia”.

    ????? ????????

    “yang menjadi motor gerak kehidupan manusia”.

    ?? ?????????????? ??????????

    “dari exes negatif yang ditimbulkan oleh musuh dalam selimut”.

    ????? ???????? ?? ?????????????

    “yang selalu menghasut manusia kedalam kehidupan kusut”.

    ?? ??????? ????????

    “yang terdiri dari Jin (sesuatu yang tersembunyi dari segala sarana kebutuhan hidup manusia) dan manusia (radiasi-radiasi yang ditimbulkannya)”.

    Seharusnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Allah kepada kita (manusia), perlu kita sadari sebaik mungkin, sebab hanya dengan cara memahami atau menyadari hakekat manusia itulah kita akan senantiasa diliputi kegandrungan untuk mementaskan tugas itu diarena hidup-kehidupan didunia ini, disamping rasa lesu, lelah, capai atau pesimis akan hilang dengan sendirinya. Tawakkal, istiqamah, shabar, taqwa,tasbih dan istighfar itulah yang senantiasa harus kita jadikan semboyan.

    HAKEKAT MANUSIA secara keseluruhan tersimpul didalam kalimat :

    ????????? ????? ??????? ????????

    yang bermakna :

    ????????? ?????

    “Dengan kesadaran ‘Khalifatullah fil ardh’, maka manusia dalam ber-aktivitas harus mengatas namakan Allah, yakni beramal diatas dasar garis Ajaran Ilmu Allah.

    ???????????

    “Dengan kedudukan Khalifah, maka manusia ‘bertujuan hidup’ untuk berbuat dan mengajarkan al Qur-an (syi’ar), silahkan hubungkan dengan QS. ar Rahman/55:1-2.

    “Dan telah ditanzilkan al Qur-an kepadamu sebagai penerang untuk seluruh ……..

    ^ ^ ^

    ?

     
  • revislam 14:13 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 41 


    ?

    ~?~

    ~ KESIMPULAN HAKEKAT MANUSIA ~

    ????????? ????? ??????? ????????

    MANUSIA adalah mahluk Allah yang merupakan salah satu dari sekian banyaknya mahluk Allah. Manusia sebagai mahluk organis-biologis bila dibandingkan dengan mahluk organis-biologis lainnya sungguh merupakan satu titik yang hampir tidak berarti di jagatraya ini, hal tersebut memang wajar saja, sebab harga dan nilai manusia bukan terletak pada organis-biologisnya, akan tetapi terletak pada qalbunya.

    Qalbu yang dimiliki manusia itulah yang menjadi komando bagi segala aktivitas hidup dan kehidupannya di dunia ini, baik qalbu yang dipengaruhi dari dalam dirinya atau subjektifnya yang bersumber faktor biologisnya dan ataupun pengaruh dari luar dirinya yakni Ajaran Ilmu Allah.
    Namun dari kedua latar belakang pengaruh tersebut akan melahirkan akibat yang sangat jauh berbeda baik peristiwa dan nilainya, peristiwa/aktivitas yang yang bermotifkan faktor biologisnya, berdasarkan kepastiannya akan mengujudkan kehidupan “jahannam”, suatu watak kehidupan yang penuh hawa nafsu.

    Namun bila aktivitas hidup dan kehidupannya bermotifkan Ajaran Ilmu Allah, dimana ajaran Ilmu itu sendiri yang menjadi komando geraknya, maka akan melahirkan kehidupan “Jannah”, kehidupan yang saling selamat-menyelamatkan, damai-mendamaikan dan sejahtera-mensejahterakan, interaksi positif dan harmonis diantara sesama manusia dan alam lingkungannya, ia tidak terbelenggu oleh “mata’ul hayatiddunya”, tetapi bahkan ia turunkan mata’ul hayatiddunya itu untuk kepentingan sosial atau “jihad fisabilillah”.
    Usaha kearah itu yang pasti tidak mudah, namun walau bagaimanapun juga, sesuai dengan fitrah manusia, sudah seharusnya Ajaran Ilmu Allah-lah yang dijadikan faktor penggeraknya, agar supaya manusia senantiasa terhindar dari segala ekses negatif yang ditimbulkan dari dalam dirinya (faktor biologis) atau “musuh dalam selimut” dan juga ekses negatif dari manusia luar dirinya berupa fitnah, hasutan, imtimidasi dan provokasi dari manusia-manusia dengki dan khianat yang suka…..

    ^ ^ ^

    ?

     
  • revislam 14:13 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 40 


    ….. yang berisi norma/hukum sosial-budaya yang terdiri dari halal dan haram, dipandang dari sudut manusia dan kemanusiaannya sangat diperlukan sebagaimana perlunya terhadap pemenuhan kebutuhan biologisnya, sebab setiap mahluk yang disebut manusia dengan berbagai macam pangkat yang dimilikinya, dari mulai kelas awam sampai dengan kelas Nabi, mereka tetap memiliki kesamaan-kesamaan dalam bentuk pemenuhan biologis dan ataupun bentuk kebutuhan pengisian faktor sosialnya.

    • Dengan difahaminya makna pengajian sebagaimana yang diuraikan diatas, maka akan diketahui pula tugas kerasulan. Melaksanakan pengajian adalah sama dengan melaksanakan tugas kerasulan selama dasar yang menjadi acuannya tepat sesuai bimbingan Ajaran Ilmu Allah (al Qur-an dan Sunnah Rasul). Seluruh Rasul memiliki tugas yang sama, yaitu meluruskan atau merevolusikan pola pikir umat manusia yang sudah acak-acakan/jahiliyah menuju kepada pola pikir yang sistimatis/ilmiyah.
    • Dengan difahaminya tugas/misi Kerasulan, maka umat Islam pasti akan mampu memberikan jalan keluar dan menyelesaikan terhadap segala macam permasalahan sosial-budaya seluruh umat manusia didunia ini.

    “Orang-orang Arab menyatakan : Kami telah beriman. Nyatakanlah (olehmu) : Kamu belum beriman, tetapi untuk sekarang ini silahkan kalian menyatakan : kami telah Islam. Padahal sikap Iman belum menguasai pandangan hidupmu. Namun apabila kalian tepat berbuat mentaati Ajaran Ilmu Allah dan Sunnah Rasul ini, sedikitpun tidak akan mengurangi nilai perbuatan yang kalian lakukan. Sesungguhnya Ajaran Ilmu Allah adalah pembebas dari belenggu kehidupan serba dosa dan menumbuhkan kehidupan berperikemanusiaan”. (QS. al Hujurat/49:14)

    ?????????? ?? ??????????

    ~?~

    ••••••••••••••••••••••••••
    .

     
  • revislam 14:12 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 39 


    ….. penyeleweng ayat-ayat Allah”. (QS. al Jumu’ah/62:5)

    C. Untuk mengindikasi & mengidentifikasi.

    1. Mengindikasi adalah untuk mengetahui tanda-tanda atau kecenderungan-kecenderungan kondisi sosial-budaya umat Islam pasca meninggalnya Rasulullah dan juga masa berakhirnya kekhalifahan yang empat hingga sekarang (abad ke 21 Masehi). Apa yang diperkirakan oleh Rasulullah saw. kurang lebih 15 abad silam (untuk lebih jelasnya, silahkan pelajari catatan-catatan fb. kami yang berjudul “Mayoritas tak berkualitas”, “Kondisi umat Islam sekarang” dan “KONDISI JAHILIYAH”), merupakan kenyataan yang kita hadapi sekarang ini, bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Dimana secara jumlah, orang yang menganut Islam dari hari-kehari berkembang dengan pesat, ditandai dengan semakin banyaknya orang-orang yang memeluk Islam diseluruh penjuru dunia, dan di Indonesia sendiri hampir 90% penduduknya adalah umat Islam.
    Melihat kuantitas yang ada, seharusnya umat Islam mampu memainkan peranan, mewarnai dan mengendalikan roda kehidupan didunia ini. Namun pada kenyataannya justru sebaliknya, umat Islam dikendalikan oleh umat non Islam. Pertanyaannya, dikemanakan gelar yang Allah berikan kepada kita sebagai “khayra ummah” ???

    2. Mengidentifikasi adalah untuk melihat kesamaan-kesamaan atau membandingkan kondisi sosial-budaya umat manusia terdahulu pra-kerasulan para Rasul Allah dengan kondisi sosial-budaya sekarang ini. Pada hakekatnya kondisi jahiliyah dijaman kapanpun berlaku, ditempat manapun berada isi dan nilainya sama. Secara garis besar kondisi jahiliyah tergambar dengan jelas didalam catatan-catatan kami sebelumnya.

    Maka dengan mengindikasi dan mengidentifikasi permasalahan sosial-budaya umat manusia, diharapkan umat Islam mampu mengoreksi diri dalam rangka meraih kembali posisi umat terbaik yang selama ini kita cabik-cabik sendiri.

    IV. KESIMPULAN

    • Mengisi qalbu dengan Ajaran Ilmu Allah (dalam hal ini adalah Qur-an) adalah Sunnatullah yang keharusannya tidak bisa dibantah lagi. Karena itu pula, maka al Qur-an…..

    ^ ^ ^
    .

     
  • revislam 14:11 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 38 


    ….. ataupun yang negatif, maka umat Islam akan mampu mengungkap keberadaan jatidirinya dan juga fungsinya.
    Selanjutnya, kita rumuskan saja sebagai berikut :

    1. Eksistensi umat Islam adalah “khayra ummah”.
    2. Fungsi umat Islam ;

    • kedudukannya adalah “ummatan wasatha”.
    • tugasnya adalah “amar ma’ruf nahi munkar” (dua kalimat yang tidak bisa dipisahkan), dalam bentuk ;

    ~ “syuhada alannaas” yakni memberikan jalan keluar.
    ~ “ukhrijat linnas” yakni menyelesaikan problema sosial-budaya.

    Uraian tersebut diatas dapat kita lihat dengan jelas didalam ayat-ayat al Qur-an berikut ini :

    “Kalian itu adalah umat yang terbaik, dikarenakan kepada kalian adanya tanggung jawab untuk menjelaskan problema kehidupan atau sosial-budaya massal manusia, dengan senantiasa menggairahkan untuk kepada berbuat baik dan memperingatkan agar tidak melakukan kemunkaran, yang terlebih dahulu kalian hasus bersikap Iman terhadap (ajaran Ilmu) Allah”. (QS. Ali Imran/3:110)

    “Dan demikianlah Kami telah memproses kalian sebagai umat/ masyarakat yang adil, yakni yang harus mampu membangun/ membina massal manusia menurut ketentuan Allah, sebagaimana Rasulullah mencontohkan kepada kalian”. (QS. al Baqarah/2:143)

    “Wahai orang-orang yang telah menyatakan sikap Iman, tegakkanlah kehidupan yang seimbang (adil) yakni dengan senantiasa membuktikan kebenaran Ajaran Ilmu Allah, baik terhadap diri-sendiri maupun kepada kedua orang tuamu maupun kepada kerabatmu”. (QS. an Nisaa/4:135)

    Dengan difahami eksistensi dan fungsi dirinya, maka umat Islam bersikaplah ia sebagai :

    • “Syahida” yakni senantiasa membuktikan kebenaran Ajaran Ilmu Allah.
    • “Wayakuunarrasul” yakni senantiasa komit terhadap Sunnah Rasul.
    • Dengan demikian kita terbebas dari seperti apa yang Allah firmankan dalam ayat dibawah ini :

    “Perumpamaan orang-orang yang diamanahkan kitab Taurat (Ajaran Ilmu Allah), kemudian mereka tidak mampu melaksanakannya, adalah bagaikan seekor keledai yang memanggul kitab.
    Itulah sejelek-jeleknya perumpamaan terhadap manusia-manusia …..

    ^ ^ ^

     
  • revislam 00:29 pada 21 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 37 


    III. TUJUAN PENGAJIAN

    A. Untuk mengetahui Motif, Peristiwa dan Nilai.

    Berdasarkan Kepastian Ilmu Allah (takdir), qalbu sebagai sarana akliyah harus difungsikan sebagai maqam Ajaran Ilmu Allah. Qalbu yang tidak berfungsi (menyalahi takdir) adalah qalbu yang diperalat oleh kepentingan pemenuhan kebutuhan biologis. Bila itu terjadi, maka akibat yang ditimbulkannya adalah kehancuran, kerusakan diseantero alam, timbulnya manusia-manusia berwajah munafiq, fasiq, kafir dan ataupun musyrik.
    Kesimpulanya, qalbu yang dipengaruhi /didominasi faktor-faktor tertentu, selanjutnya akan menjadi motif-motif tertentu pula. Motif-motif ini akan melahirkan peristiwa-peristiwa, dan selanjutnya peristiwa-peristiwa ini akan memiliki nilai baik atau nilai buruk, tergantung faktor mana yang mengisi qalbu. Hal ini tersimpul dalam sebuah Hadits yang berbunyi :

    “Sesungguhnya setiap amal (aktivitas atau peristiwa) tergantung pada niyatnya (motif atau faktor dorong). Dan segala sesuatunya tidak lepas dari apa yang diniatkannya. Maka barang siapa berhijrah (beramal) diatas dasar (ajaran Ilmu) Allah dan (Sunnah) Rasulnya, maka hijrah itu akan bernilai dihadapan Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa berhijrah diatas dasar kepentingan duniawi dan faktor biologis, maka hijrah itu akan mendapatkan apa yang diinginkannya”. (HR. Bukhari & Muslim)

    Itulah yang seharusnya dijadikan tujuan dalam setiap pengajian atau studi al Qur-an yaitu untuk mengetahui motif hidup, peristiwa hidup dan nilai hidup, semuanya terjalin dalam satu-kesatuan yang tidak bisa dan tidak boleh terpisahkan.
    Berdasarkan keterangan Hadits Rasulullah saw. diatas, maka niyat terbagi kedalam dua bagian yakni :

    1. Niyat berdasarkan Allah dan Rasul = positif.

    2. Niyat berdasarkan duniawi atau faktor biologis = negatif.

    Selanjutnya, faktor yang positif menjadi IMAN, ISLAM, IHSAN dan faktor yang negatif menjadi kafir, jahil, zhalim.

    B. Untuk mengetahui eksistensi & fungsi umat.

    Dengan dipahaminya motif hidup, peristiwa hidup dan nilai hidup, baik yang positif …..

    ^ ^ ^

     
  • revislam 00:28 pada 21 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 36 


    3. Pengkajian Dienul Islam secara historis atau asal-usul proses perjalanan sejarah keagamaan, hanya berkesimpulan akhir, bahwa Dienul Islam itu sama dengan agama-agama lainnya yang merupakan hasil ciptaan dan olahan subjektif manusia, dimana Islam disebut dengan “Muhammadanisme” atau alam fikiran Muhammad. (Pengkajian semodel ini kebanyakan dilakukan oleh orang-orang non-muslim).

    Berdasarkan ketiga faktor tersebut diatas, maka akhirya Islam hanya dimaknai sebatas agama saja, dimana tendensi agama tersebut hanya kepada hubungan manusia dengan Tuhan saja yang dibangun diatas upacara-upacara ritual tertentu yang irrasional, dogmatis dan sekularistik. Maka akhirnya umat Islam kehilangan kendali terhadap kepentingan hidup antara manusia dengan manusia dan atau antara manusia dengan alam linkungannya, lebih-lebih kondisi sosial kehidupan umat manusia sudah demikian kompleks.
    Ketidak mampuan umat islam untuk mengatur, membina dan mengarahkan kepada ketertiban, keamanan dan kedamaian dunia, mengakibatkan terisolasi ajaran Islam yang sebatas agama dari percaturan-percaturan kehidupan bermasyarakat. Sehingga agama dipisahkan dari kehidupan dan ditempatkan hanya pada tempat-tempat peribadatan saja, sedangkan diluar itu diserahkan kepada akal dan hawa nafsu manusia. Karenanya, banyak umat Islam (yang tidak tahu Islam) dapat menjadi orang shaleh ditempat beribadat, namun diluar itu ia akan menjadi mahluk yang tidak berperikemanusiaan dan senang melakukan berbagai macam kejahatan. Bukan hal yang aneh dilakukan Muslim yang tidak Islam, bila pengertian agamapun hanya berada dimasjid saja, mereka berpendapat “urusan dunia ya dunia, urusan akhirat ya akhirat”.

    Karena sudut pandang yang keliru tentang Islam, akibatnya studi-studi al Qur-an atau juga pengajian-pengajian yang banyak dilakukan umat Islam tidak bisa memberikan makna dalam hidup dan kehidupan umat manusia didunia ini, dikarenakan tidak ditahuinya hakekat dari sebuah pengajian.
    Untuk itulah kita perlunya mengetahui tujuan pengajian.

    ^ ^ ^
    .

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.