Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • revislam 13:18 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 7 

    …..aliran berfikir sendiri-sendiri.
    Perbedaan dalam penetapan hukum diantara 4 madzhab tentang suatu masalah yang sama-sama dianggap sebagai syari’at agama, bahkan perbedaan didalam madzhab itu sendiri adalah tetap dianggap tidak keluar dari madzhab yang bersangkutan dan semuanya dianggap sebagai ajaran Islam.

    4. Didalam Fiqihisme kita mengenal pula adanya teori pembelahan (sekularisme) kehidupan kedalam dua kubu :

    a. Apa yang diistilahkan sebagai urusan agama (diniyyah).

    b. Apa yang diistilahkan sebagai urusan duniawi (‘adiyyah).

    Dari dua kubu besar ini diproyeksikan menjadi 4 pengkotakan (‘ubudiyah, mu’amalah, munakahah dan jinayah) ditambah babul jihad, yang keempat kotakan plus babul jihad itu pada hakekatnya terbagi dua, yaitu kotakan ‘ubudiyah sebagai urusan agama (diniyah) yakni rukun Islam dengan prioritas utamanya Shalat (sembahyang rituil shalat), selanjutnya diistilahkan pula dengan ‘ibadah “Mahdlah” (mutlak). Sedangkan selain kotakan urusan ‘ibadah/’ubudiyah ini seluruhnya dimasukkan menjadi kubu urusan duniawi (darigama) dan selanjutnya diistilahkan pula dengan urusan ‘ibadah “Ghaer mahdlah” (tidak mutlak) kemudian dipasang dalil “antum a’lamu bi umuuri dun yaakum”.
    Dalam hal ini, dalil tadi sudah umum digunakan para ‘Ulama Indonesia dan sudah berurat-berakar dalam daya berpikir ummat Islam.

    Jika kita kembalikan pada sejarahnya, maka Nabi Muhammad saw. disaat mengatakan demikian adalah disekitar masalah cara penanaman “kurma”, sehingga secara umum ruang lingkup daripada yang diistilahkan dengan urusan duniawi adalah urusan manusia dalam hubungannya dengan pengolahan alam sekitarnya seperti halnya dengan masalah penggarapan pertanian atau perkebunan dan lain-lain, atau untuk meningkatkan produksi, pemeliharaan ternak, tehnik pembuatan gedung, jembatan, senjata, alat komunikasi/transportasi, obat-obatan dan masalah tehnologi lainnya, Nabi menegaskan “tidak perlu/jangan tanya al Qur-an, sebab tokh kalian sudah mempunyai pendorongnya yaitu perut dan sex” sebagai realisasi dari …..

     
  • revislam 12:54 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 6 

    II. ILMU FIQIH

    1. Ilmu Fiqih atau “Fiqihisme” yang dikenal dikalangan ummat Islam sekarang adalah satu cabang dari Ilmu Agama yang ruang lingkupnya terbatas kepada penetapan-penetapan hukum formil dari gerak lahiriyah yang terdiri dari “Aqwal” dan “Af’al”.
    Hukum-hukum formil ini dikenakan kepada tingkah laku manusia yang menyangkut bidang-bidang :

    a. ” ‘Ubudiyah” : pemujaan manusia kepada Allah melalui syari’at sembahyang, puasa, zakat, naik haji (rukun Islam) dan lain-lain kebaktian yang berhubungan dengan itu.

    b. “Mu’amalah” : hubungan manusia dengan manusia yang menyangkut kebutuhannya (perdata) seperti jual-beli, pinjam, sewa, gadai, perkongsian dan lain sebagainya.

    c. “Munakahah” : masalah pernikahan yang berkisar disekitar nikah, talak dan ruju’ (NTR).

    d. “Jinayah” : atau “Hudud” yakni masalah hukum pidana.

    e. “Jihad” : masalah perang dan damai.

    2. Hukum formil sebagai pola penilaian itu dibagi kepada 5 kategori yaitu yang kita kenal dengan “al Ahkamul khamsah”, semua dikaitkan dengan pahala dan dosa, yaitu dengan rumusan :

    a. Wajib = dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.

    b. Haram = dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

    c. Sunat = dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak berdosa.

    d. Makruh = dikerjakan tidak berdosa, ditinggalkan berpahala.

    e. Mubah = dikerjakan tidak berpahala, ditinggalkan tidak berdosa.

    Baik pahala maupun dosa, balasannya akan diterima sihamba yang mengerjakannya nanti diakhirat (alam baqa setelah dia mati) dan jangan lupa, bahwa rumusan-rumusan dari hukum yang lima ini bukanlah rumusan al Qur-an, bukan pula rumusan Nabi Muhammad saw. dan juga bukan rumusan al Khulafa ur Rasyidin, melainkan hasil ijtihad “Fuqahaiyyin” yang sifatnya relatif, kira-kira, raba-raba (zdanniyah), yang lahir jauh dibelakang Rasulullah saw.

    3. Dasar pemikiran Fiqihisme adalah ijtihad para “Imam Mujtahid” dan dikalangan “ahlus Sunnah wal Jama’ah” terkenal dengan 4 madzhab yaitu yang menginduk kepada Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang masing-masingnya mempunyai …..

     
  • revislam 12:53 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 5 

    c. Dan banyak lagi contoh-contoh lainnya yang merupakan kekacauan berpikir yang dihasilkan Ilmu Tauhid yang tidak Ilmiyah, tidak methodis, subjektif bahkan antagonistis antara satu dengan yang lainnya ini, sangat rumit dan sulit untuk difahami apalagi untuk diturunkan kedalam kehidupan sosial-budaya manusia.

    “DAN ALLAH-LAH YANG MEMILIKI ASMA UL HUSNA, MAKA SERULAH ATAS NAMA-NAMA (AJARAN) NYA ITU. DAN ABAIKANLAH ORANG-ORANG YANG MEMUTAR BALIKAN KEBENARAN NAMA (AJARAN) NYA. NISCAYA NANTI MEREKA AKAN MENDAPATKAN APA YANG MEREKA KERJAKAN”. (QS. al A’raf/7:180)

     
  • revislam 12:52 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 4 

    …..dalamnya, sehingga jangankan dengan al Qur-an dan Sunnah Rasul, bahkan dengan rumusan-rumusan didalam lingkup Ilmu Tauhid itu sendiri bertabrakan.

    10. Sebagai contoh dapat kita tambahkan :

    a. Al Qur-an menerangkan, bahwa Allah itu memiliki “al Asma ul Husna” yakni nama-nama yang indah (QS. al A’raf/7:180), yaitu sebagai perlambang daripada IlmuNya yang mendatangkan kenyataan gerak yang indah pada alam fisika dan sosial-budaya Mukmin yang oleh Nabi saw. ditegaskan sebanyak 99 nama.
    Tetapi dari keterangan ini Ulama-ulama pengarang Ilmu Tauhid menggaetnya kemudian menetapkan, bahwa Allah itu mempunyai sifat yang jumlahnya cuma 13 dan dilain fihak cuma 20 sifat. Konsekwensinya yang tidak bisa dielakkan ialah adanya ketetapan lain, yakni sifat-sifat “Rahman”, “Rahim”, “Shabur”, “Halim”, “Aziz”, “Khabir” dan lain-lainnya tidak termasuk kedalam sifat keTuhanan Allah. Dengan kata lain, tertolak ketuhananNya kalau ia Rahman, ia Rahim, ia Shabur dan lain-lain sifat Allah diluar yang 13 atau yang 20 itu.
    Rupanya menurut kesan para ahli Ilmu Tauhid ini, Rahman, Rahim dan lain sebagainya itu dipandang sebagai sifat embel-embel saja (benar-benar ngawur).

    b. Ilmu Tauhid Sifatiyah menetapkan, bahwa Tuhan Allah wajib besifat “Qudrat” artinya “berkuasa” dan mustahil ” ‘Ajzu” yang artinya “tidak berkuasa”. Baik wajib QudratNya maupun mustahil ‘AjzuNya, tidak berawal dan tidak berakhir. Lalu “Jaiz” yang menggunakan QudratNya itu untuk mengadakan atau meniadakan sesuatu, didalam Ilmu Tauhid dikatakan “Ta’liq” artinya bergantungan atau berhubungan QudratNya itu dengan alamNya sebagai “Maqudrat”/objek Qudrat.
    Timbul problima : Apakah kekuasaan Allah sebelum menciptakan alam ini atau sesudah membinasakannya alam dalam keadaan menganggur ?… Kalau dijawab menganggur, maka berarti bahwa QudratNya itu ada awal dan ada keakhirannya. Sedangkan kalau dijawab tidak menganggur, maka berarti bahwa maqudratnya yaitu alam semesta ini sudah ada sebelum dijadikanNya.

     
  • revislam 12:51 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 3 

    …..kepada dua objek berbeda (dzat & sifat).

    7. Suatu hal yang aneh dan membingungkan, dimana para “Mutakallimin” dalam rangkaian pembahasannya itu, mereka gunakan pula satu dalil naqli dari al Qur-an yang berbunyi “laisa kamitslihi syai aa” yang berarti “tidak ada sesuatupun yang menyamai/menyerupai Allah”.
    Yang menjadi pertanyaan, kenapa justru sudah ada rumusan dalil yang begitu tajam dan sugestif tetapi ahli-ahli Kalam tetap saja menjadikan Allah sebagai objek studi (benar-benar konyol).

    8. Lebih jauh lagi dalam hubungan bahwa al Qur-an ini diistilahkan pula dengan “Nuur”, sebagai cahaya/sinar pantulan yang maksudnya “keterangan ilmiyah dari Allah”. Hal tersebut dapat dilihat dalam beberapa ayat al Qur-an, diantaranya :

    • QS. at Taghabun/64:8
    • QS. al Maa-idah/5:15
    • QS. an Nuur/24:35
    • QS. al Baqarah/2:257

    Selanjutnya mari kita perhatikan rumusan matematis QS. Yunus/10:5 “Dialah (Allah) yang menjadikan matahari itu memancarkan sinar dan satelit-satelitnya memantulkan sinar”.
    Ayat ini menjelaskan, bahwa matahari itu adalah yang memancarkan sinar, sedangkan satelit-satelit yang mengelilinya (merkurius, venus, bumi dan seterusnya) adalah pemantul sinar. Satelit-satelit sebagai pemantul sinar dalam perbandingan yang begitu lemah ini tidak mungkin mampu menyinari kembali ke matahari sebagai sumber sinar itu.
    Maka dari perumpamaan itu difahamilah, bahwa Allah sebagai sumber Ilmu, maka yang pasti Ilmu yang diajarkan kepada manusia yang hanya merupakan pantulan (sedikit) saja dari Ilmu yang dimiliki Allah, tidak mungkin dapat digunakan untuk mengkaji Allah, baik dzatNya maupun sifatnya dan memang bukan untuk itu, tetapi untuk dipantulkan kembali kepada sesama manusia agar terwujud satu kehidupan harmonis diantara mereka seperti harmonisnya alam karena saling pantul-memantulkan yang wujudnya adalah sistem gravitasi (daya tarik-menarik).

    9. Dari uraian singkat diatas, dapat kita fahami betapa tidak Ilmiyahnya pola berpikir Ilmu Tauhid itu dan betapa subjektifnya uraian-uraian yang terdapat di …..

     
  • revislam 12:50 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 2 

    b. “Al Asy’ary” memilih dan menetapkan sifat-sifat Tuhan itu ; yang wajib 20, yang mustahil 20 dan yang Jaiz ada satu.

    5. Istilah sifat menurut para ahli Ilmu Tauhid ialah sesuatu hal atau keadaan yang ada pada dzat, tetapi bisa dipindahkan dari dzat itu sendiri. Maka cara berpikir menurut pola Ilmu Tauhid itu berarti Tuhan Allah terdiri dari dua unsur, yaitu dzat dan sifat, sehingga semakin didalami dalam rangka meng-Esa-kan Tuhan, pasti akan kabur dan tidak akan sampai kepada tujuannya.

    6. Studi tentang alam ini dengan jalan penelitian untuk mencapai ma’rifat, pengetahuan tentang benda-benda ciptaan Allah, ujud, bentuk, fungsi dari masing-masing benda, memang itulah yang harus dijadikan objek studi manusia sebagai salah satu jembatan kearah mau hidup menurut ajaran Ilmu Allah sebagaimana kondisi semesta alam yang sudah sepenuhnya sujud, tunduk dan patuh kepada Allah penciptanya. Akan tetapi Allah tidak boleh dijadikan objek studi dan yang pasti tidak memungkinkan, baik untuk mengetahui dzatNya maupun batas-batas daripada sifatNya. Disamping itu, Ia yang bersifat gaib ini adalah sesuatu yang tidak dapat diriset atau diexperimenkan. Dalam hal ini Rasulullah saw. menegaskan :

    “Tafakuri/kajilah ciptaan Allah dan jangan sekali-kali kalian mentafakuri/ mengkaji Allah, sebab pasti akan menimbulkan kerusakan”. (HR. Abu Syekh)

    Begitu pula didalam al Qur-an, tidak ada satu ayatpun yang memberikan perintah kepada manusia untuk memikirkan dan mengkaji Allah. Al Qur-an dari Allah tetapi bukan untuk dijadikan sebagai alat untuk mengkaji Allah. Al Qur-an sebagai ajaran Ilmu Allah menerangkan seluk beluk semesta alam ini.
    QS. Yunus/10:101 menegaskan :

    “Nyatakanlah : Pusatkan perhatianmu itu kepada segala sesuatu yang ada disemesta angkasa dan bumi ini. Tidak ada gunanya mengkaji kekuasaan (sifat) Allah, dan semua itu hendaknya dijadikan peringatan bagi kaum yang tidak beriman”.

    Silahkan hubungkan dengan QS. Ali Imran/3:191.
    Jadi bukan mentafakuri Allah, apalagi dengan menggunakan satu methode berpikir…..

     
  • revislam 12:49 pada 15 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    ~ Uraian ringkas tentang ILMU TAUHID, ILMU FIQIH, ILMU TASHAWUF dan SOROTAN beberapa ULAMA ~ hal. 1 

    I. ILMU TAUHID

    1. Ilmu Tauhid adalah satu cabang keilmuan yang mempelajari sifat ke-Tuhan-an Allah, untuk mengesakan Tuhan atau mempercayai Tuhan Yang Satu.

    2. Methodenya ialah mengamat-amati atau meneliti benda-benda ciptaan Allah, ujud, gejala-gejala dan sifat-sifatnya, dalam pengamatan mana ialah dengan menggunakan hukum akal, kemudian hasilnya digunakan untuk menyoroti dan mempelajari sifat Tuhan Allah.
    Yang dikatakan hukum akal itu terbagi kedalam tiga bagian :

    a. Wajib = mesti adanya.
    b. Mustahil = mesti tiada.
    c. Jaiz = boleh ada boleh tidak.

    3. Tujuan daripada Ilmu Tauhid ialah untuk mencapai “ma’rifatullah” artinya mengetahui/mengenal Tuhan Allah.
    Ma’rifatullah ini saja adalah untuk dijadikan isi daripada “Iman” yang umumnya mereka artikan “percaya”. Ilmu ini sesuai tujuannya dipandang begitu penting, bahkan dikatakan “ushuluddin” yakni pangkal/inti agama.

    4. Objek pembahasan utama dari Ilmu Tauhid ini adalah “shifatiyah” (sifat Tuhan Allah), yaitu melakukan kegiatan akal pikiran untuk memilih dan menetapkan sifat-sifat “Kamilah”, sifat yang wajib, mesti adanya pada dzat Allah yang biasa disebut dengan “itsbaatu maa yul yifu bihii ta’aala”, dan memilih serta menetapkan sifat “naqishah”, sifat yang mustahil, mesti tiada pada dzat Allah atau biasa disebut dengan “itsbaatu maalaa yul yifu bihi ta’aala, serta memilih dan menetapkan sifat “jaiz”, sifat yang mungkin, boleh ada dan boleh tidak ada pada dzat Allah, yaitu yang biasa disebut dengan “wa itsbaatu maa yumkinu bihii ta’aala”.

    Sesuai dengan kuasa akal diatas pola pikiran Ilmu Tauhid (Ilmu Kalam), maka dipilih dan ditetapkan sifat-sifat Tuhan Allah dan akhirnya dengan kuasa akalnya itu sampailah mereka kepada perbedaan pendapat mengenai jumlah sifat-sifat Tuhan itu.
    Ulama-ulama Ilmu Kalam berselisih didalam menetapkan jumlah sifat-sifat tersebut, seperti :

    a. “Al Ma’turidy” memilih dan menetapkan bahwa sifat Tuhan Allah ; yang wajib ada 13, yang mustahil 13 dan yang Jaiz satu. Sebaliknya …..

    ^ ^ ^
    .

     
  • revislam 14:15 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 43 

    ?

    ….. umat manusia”. (QS. an Nahl/16:44)

    ????????????

    “Dengan kedudukan Khalifah, maka manusia bertujuan hidup untuk mewujudkan kehidupan “Ruhama” yakni kehidupan yang berprikemanusiaan.

    “Dan sesungguhnya kamu diharuskan membangun akhak yang agung”. (QS. al Qalam/68:4)

    DENGAN demikian kalimat Bismillaahir rahmaanir rahiim adalah :

    “SISTIMATIKA DIENUL ISLAM”

    rumusnya :

    • Bismillaah = IMAN.
    • Arrahmaan = ISLAM.
    • Arrahiim = IHSAN.

    Bila dihubungkan dengan bahasan motif, peristiwa dan nilai maka :

    • Bismillaah = motif = sikap.
    • Arrahmaan = peristiwa = aktivitas.
    • Arrahiim = nilai = tujuan.

    Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :

    “Setiap aktivitas apapun yang disengaja, tidak dimulai dengan Bismillaahir rahmaanir rahiim, berarti telah melakukan kesalahan (terputus)”. (HR. Abu Dawud)

    ~?~

    ????????? ????? ??????? ????????

    ???? ????? ?????? ?????? ???? ????? ????? ??? ?????? ?????? ???????? ???? ????? ???? ????? ????? ??? ?? ?????????? ?????????

    ” MAKA, TEGAKKANLAH PANDANGAN HIDUPMU UNTUK MEREALISASIKAN TATA CARA YANG MURNI, YAKNI FITRAH ALLAH YANG TELAH DINORMAKAN DALAM MENATA HIDUP-KEHIDUPAN MANUSIA, TIDAK AKAN MENGALAMI PERUBAHAN SEBAGAIMANA KEHIDUPAN FISIKA CIPTAAN ALLAH, ITULAH TATA CARA YANG LURUS, TETAPI MAYORITAS MANUSIA TIDAK MENGKAJINYA SECARA ILMIYAH “
    (QS. AR RUUM/30:30)

    ?? ????? ????????? ???
    ???????

    ” SESUNGGUHNYA TATA CARA HIDUP-KEHIDUPAN YANG DIAJARKAN ALLAH HANYALAH ISLAM = (DAMAI-MENDAMAIKAN, SELAMAT-MENYELAMATKAN, SEJAHTERA-MENSEJAHTERAKAN) “.
    (QS. ALI IMRAN/3:19)

    ~?~

    ?????????? ?? ??????????

    Demikianlah akhir dari uraian ~HAKEKAT MANUSIA~

    ??? ~SELESAI~ ???

     
  • revislam 14:14 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 42 

    ?

    ….. menggunting dalam lipatan dan lempar batu sembunyi tangan dan ataupun bahkan yang terang-terangan.
    Segala permasalahan tersebut bisa dihindari hanya dengan senantiasa melindungi diri dengan Ajaran Ilmu Allah yakni al Qur-an sebagai teori dan Sunnahrasul tehnis praktisnya.

    Dalam hal ini Allah berfirman didalam QS. an Naas/114:1-6, berbunyi :

    ?? ?????????? ???????

    “Nyatakan olehmu : Aku melindungi diri dengan (Ajaran Ilmu Allah) pembimbing kehidupan manusia (masyarakat)”.

    ?????? ????????

    “yang mengatur, mengawasi dan menguasai seluruh gerak kehidupan manusia”.

    ????? ????????

    “yang menjadi motor gerak kehidupan manusia”.

    ?? ?????????????? ??????????

    “dari exes negatif yang ditimbulkan oleh musuh dalam selimut”.

    ????? ???????? ?? ?????????????

    “yang selalu menghasut manusia kedalam kehidupan kusut”.

    ?? ??????? ????????

    “yang terdiri dari Jin (sesuatu yang tersembunyi dari segala sarana kebutuhan hidup manusia) dan manusia (radiasi-radiasi yang ditimbulkannya)”.

    Seharusnya terhadap tugas yang dibebankan oleh Allah kepada kita (manusia), perlu kita sadari sebaik mungkin, sebab hanya dengan cara memahami atau menyadari hakekat manusia itulah kita akan senantiasa diliputi kegandrungan untuk mementaskan tugas itu diarena hidup-kehidupan didunia ini, disamping rasa lesu, lelah, capai atau pesimis akan hilang dengan sendirinya. Tawakkal, istiqamah, shabar, taqwa,tasbih dan istighfar itulah yang senantiasa harus kita jadikan semboyan.

    HAKEKAT MANUSIA secara keseluruhan tersimpul didalam kalimat :

    ????????? ????? ??????? ????????

    yang bermakna :

    ????????? ?????

    “Dengan kesadaran ‘Khalifatullah fil ardh’, maka manusia dalam ber-aktivitas harus mengatas namakan Allah, yakni beramal diatas dasar garis Ajaran Ilmu Allah.

    ???????????

    “Dengan kedudukan Khalifah, maka manusia ‘bertujuan hidup’ untuk berbuat dan mengajarkan al Qur-an (syi’ar), silahkan hubungkan dengan QS. ar Rahman/55:1-2.

    “Dan telah ditanzilkan al Qur-an kepadamu sebagai penerang untuk seluruh ……..

    ^ ^ ^

    ?

     
  • revislam 14:13 pada 24 April 2011 Permalink | Balas
    Tags:   

    ~ HAKEKAT MANUSIA ~ Hlm. 41 

    ?

    ~?~

    ~ KESIMPULAN HAKEKAT MANUSIA ~

    ????????? ????? ??????? ????????

    MANUSIA adalah mahluk Allah yang merupakan salah satu dari sekian banyaknya mahluk Allah. Manusia sebagai mahluk organis-biologis bila dibandingkan dengan mahluk organis-biologis lainnya sungguh merupakan satu titik yang hampir tidak berarti di jagatraya ini, hal tersebut memang wajar saja, sebab harga dan nilai manusia bukan terletak pada organis-biologisnya, akan tetapi terletak pada qalbunya.

    Qalbu yang dimiliki manusia itulah yang menjadi komando bagi segala aktivitas hidup dan kehidupannya di dunia ini, baik qalbu yang dipengaruhi dari dalam dirinya atau subjektifnya yang bersumber faktor biologisnya dan ataupun pengaruh dari luar dirinya yakni Ajaran Ilmu Allah.
    Namun dari kedua latar belakang pengaruh tersebut akan melahirkan akibat yang sangat jauh berbeda baik peristiwa dan nilainya, peristiwa/aktivitas yang yang bermotifkan faktor biologisnya, berdasarkan kepastiannya akan mengujudkan kehidupan “jahannam”, suatu watak kehidupan yang penuh hawa nafsu.

    Namun bila aktivitas hidup dan kehidupannya bermotifkan Ajaran Ilmu Allah, dimana ajaran Ilmu itu sendiri yang menjadi komando geraknya, maka akan melahirkan kehidupan “Jannah”, kehidupan yang saling selamat-menyelamatkan, damai-mendamaikan dan sejahtera-mensejahterakan, interaksi positif dan harmonis diantara sesama manusia dan alam lingkungannya, ia tidak terbelenggu oleh “mata’ul hayatiddunya”, tetapi bahkan ia turunkan mata’ul hayatiddunya itu untuk kepentingan sosial atau “jihad fisabilillah”.
    Usaha kearah itu yang pasti tidak mudah, namun walau bagaimanapun juga, sesuai dengan fitrah manusia, sudah seharusnya Ajaran Ilmu Allah-lah yang dijadikan faktor penggeraknya, agar supaya manusia senantiasa terhindar dari segala ekses negatif yang ditimbulkan dari dalam dirinya (faktor biologis) atau “musuh dalam selimut” dan juga ekses negatif dari manusia luar dirinya berupa fitnah, hasutan, imtimidasi dan provokasi dari manusia-manusia dengki dan khianat yang suka…..

    ^ ^ ^

    ?

     
c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.